Kampanye Indonesia Butuh Chris Hughes
Chris Hughes
Siang adalah saat “mendidih” di kantor pusat kampanye Barack Obama di Chicago. Semua memeras ide untuk memenangi pertempuran. Seorang lelaki muda, umurnya baru 25 tahun, duduk merenung di salah satu ruangan di sana. Ia sedang tenggelam di mejanya saat Obama menarik kursi di depannya. “Saya kemarin bertemu dengan orang tuamu,” kata Obama sambil tersenyum. Itu terjadi pada November 2008 setelah Obama memetik hati masyarakat North Carolina. “Orang tuamu sangat menyenangkan,” Obama memuji.
Siapa lelaki muda itu, sehingga Obama begitu ramah menyapanya? Majalah Fast Company menyebut dia “bocah yang membuat Obama menjadi presiden”. Obama sendiri menyebutnya “My Internet Man”. Sedangkan para pendiri Facebook, seperti Mark Zuckerberg, menjulukinya Direktur yang Hebat. Ya, dia Chris Hughes, mantan Direktur Facebook yang menjadi kunci kemenangan Obama di ranah Internet.Wajahnya imut-imut. Dia besar di Washington. Tapi siapa sangka alumnus Universitas Harvard ini sudah melahirkan dua sejarah besar: Facebook dan Obama? Hughes sendiri tak pernah menyangka dia akan menjadi bagian dari sejarah itu. Meski Hughes sering main dengan para pendiri Facebook lainnya, seperti Mark Zuckerberg dan Dustin Moskovitz, dia tak tertarik menulis software. Dia lebih suka membaca tren kemauan pengguna Internet.
“Chris (Hughes) pintar memanfaatkan Internet untuk menggerakkan orang agar berkampanye tidak hanya di dunia maya, tapi juga di dunia nyata,” kata David Plouffle, manajer kampanye Obama. “Internet selama ini hanya untuk merangkul, tapi tidak untuk menggerakkan.”
Saat Obama resmi berkampanye, mereka meluncurkan dua situs sekaligus: BarackObama.com dan MyBarackObama.com (MyBO). MyBo inilah yang membuat kampanye Obama selalu berdenyut kencang. MyBO telah melahirkan 2 juta sukarelawan yang tergabung di Internet, merancang 200 ribu kegiatan kampanye darat atau offline, membentuk 35 ribu grup, mengunggah 400 ribu artikel blog dan meraih US$ 30 juta (Rp 360 miliar) dana sumbangan dari 70 ribu halaman iklan donasi yang dibuat oleh para pendukung Obama.
Benar bahwa ada banyak pemain di balik kemenangan Obama, termasuk pesona Obama sendiri yang sudah sangat “menjual”. Tapi di tangan Chris Hughes, nilai Obama naik berlipat-lipat. “Kami sangat beruntung Hughes telah terjun bersama kami sejak awal kampanye.” Salah satu contoh nyata adalah ketika Obama hendak menggarap wilayah New Hampshire. Obama di sini keok. Mereka mengirimkan staf ke Colorado dan Missouri untuk melakukan gerilya. “Ketika kami turun ke lapangan, sudah separuh staf terorganisasi dengan baik, berkat kampanye Internet,” David mengenang. “Dan kami tinggal mendukung gerakan yang sudah dibangun.”
Jusuf Kalla, Prabowo Subianto, atau Megawati Soekarnoputri pasti bungah tak keruan seandainya mereka punya orang seperti Chris Hughes. Hughes mungkin akan mengatrol posisi mereka dengan lonjakan yang dahsyat.
“Tapi, eit, nanti dulu,” temanku buru-buru memotong saat kuutarakan ide memboyong Hughes ke Indonesia. “Ini Indonesia, Bung! Bukan Amerika,” kata temanku yang jago di bidang pemasaran online. Di negeri ini Internet cuma dinikmati oleh 35 juta orang atau sekitar 16 persen dari total penduduk.
“Tak usah cemas soal itu. Hughes pasti mafhum,” kataku. Setidaknya kehadiran Hughes bisa memoles kampanye agar calon presiden tak sekadar berlomba-lomba kumpul dengan para blogger atau mengajak blogger kondang ikut keliling naik pesawat seperti yang dilakukan Jusuf Kalla.
http://blog.tempointeraktif.com/portal/kampanye-indonesia-butuh-chris-hughes/#more-408
Chris Hughes, Facebook, kampanye, obama
Beyonce – Above And Beyonce Dance Mixes (2009)
-
Label: Music World Music / Columbia
Genre: Dance
Quality: VBRkps / 44.1kHz / Joint-Stereo
Time: 50:11min
Size: 69.3MB
Music World/Columbia Records proudl...
16 tahun yang lalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar